
Pembiasaan Peserta Didik Kelas V dan VI Menjadi Imam Sholat Dzuhur di SD N 1 Somagede

Rozik
Penopang Karya


Rozik
Penopang Karya
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 004 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menginisiasi Pembiasaan Peserta Didik Menjadi Imam Sholat Dzuhur di SD Negeri 1 Somagede, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam memperkuat pembiasaan ibadah sekaligus melatih keberanian, tanggung jawab, dan kepemimpinan peserta didik, khususnya siswa laki-laki.
Kegiatan dilaksanakan setiap Senin hingga Kamis di Mushola Darul Aqrom SDN 1 Somagede dan diikuti oleh seluruh peserta didik kelas I hingga VI. Sebanyak 118 siswa, yang terdiri atas 62 siswa laki-laki dan 56 siswa perempuan, mengikuti sholat Dzuhur berjamaah. Dalam kegiatan tersebut, siswa laki-laki kelas V dan VI diberikan kesempatan secara bergantian untuk menjadi imam.
Sebelum program ini dilaksanakan, pembiasaan peserta didik untuk menjadi imam secara bergantian belum menjadi bagian dari kegiatan sholat berjamaah di sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa KKN Reguler 004 menginisiasi program tersebut sebagai bentuk penguatan pendidikan keagamaan. Siswa tidak hanya dibiasakan melaksanakan sholat berjamaah, tetapi juga diberikan pengalaman langsung untuk belajar memimpin pelaksanaan ibadah.
Pelaksanaan kegiatan didampingi oleh bapak dan ibu guru wali kelas. Siswa yang mendapat giliran menjadi imam diberikan arahan mengenai kesiapan menjadi imam, tata cara pelaksanaan sholat, bacaan yang perlu dipersiapkan, serta tanggung jawab dalam memimpin jamaah. Pendampingan dilakukan secara bertahap agar siswa dapat menjalankan tugas dengan tertib sekaligus membangun rasa percaya diri.
Bagi sebagian peserta didik, menjadi imam merupakan pengalaman baru yang memunculkan rasa gugup dan kurang percaya diri. Namun, kesempatan yang diberikan secara bergantian menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengatasi rasa tersebut. Melalui latihan yang dilakukan secara berulang, siswa didorong untuk berani tampil di hadapan teman-temannya dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Education Team sekaligus pendamping dan pelatih imam, Khoirrurrozikin, menjelaskan bahwa pembiasaan tersebut masih berada dalam tahap proses belajar. Menurutnya, siswa tidak dituntut untuk langsung mampu menjadi imam secara sempurna, tetapi diberikan kesempatan untuk terus berlatih dan memperbaiki kemampuan melalui pendampingan.
“Anak-anak masih dalam tahap belajar. Karena itu, kami tidak menuntut mereka langsung sempurna ketika menjadi imam. Kami memberikan kesempatan secara bergantian agar mereka terbiasa, lebih percaya diri, dan dapat memperbaiki bacaan maupun tata cara sholat melalui proses pendampingan. Harapannya, semakin sering mereka berlatih, semakin siap pula mereka ketika suatu saat mendapat tanggung jawab untuk menjadi imam,” ujar Khoirrurrozikin.
Ia menambahkan, keberanian siswa untuk mencoba merupakan bagian penting dalam proses pembiasaan. Rasa gugup yang muncul ketika pertama kali menjadi imam dinilai sebagai hal yang wajar karena peserta didik sedang belajar menjalankan peran baru di hadapan teman-temannya.
“Yang terpenting bukan hanya siapa yang sudah lancar, tetapi bagaimana mereka berani mencoba dan terus belajar. Dari proses tersebut, kami berharap pembiasaan ini dapat terus berjalan meskipun masa KKN telah selesai,” tambahnya.
Selain meningkatkan kemampuan keagamaan, pembiasaan menjadi imam juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik. Ketika menjalankan peran sebagai imam, siswa belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, serta kepemimpinan. Sementara itu, peserta didik yang menjadi makmum dibiasakan untuk mengikuti imam dengan tertib dan menjaga ketenangan selama pelaksanaan sholat berjamaah.
Kepala SD Negeri 1 Somagede, Ninik Herzawati, S.Pd.SD., mengapresiasi program yang diinisiasi mahasiswa KKN Reguler 004 tersebut. Menurutnya, kesempatan bagi siswa untuk belajar menjadi imam dapat memberikan pengalaman keagamaan sekaligus membantu membangun kepercayaan diri peserta didik.
“Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada anak-anak, khususnya siswa laki-laki kelas V dan VI, untuk belajar menjadi imam. Harapannya, mereka tidak hanya terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, tetapi juga memiliki keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan untuk memimpin. Semoga pembiasaan ini dapat terus dilanjutkan setelah mahasiswa KKN selesai melaksanakan tugasnya di sekolah,” ujarnya.
Melalui Pembiasaan Peserta Didik Menjadi Imam Sholat Dzuhur, mahasiswa KKN Reguler 004 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pembiasaan yang berkelanjutan di SDN 1 Somagede. Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memimpin sholat, tetapi juga menanamkan nilai keberanian, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepemimpinan sejak usia sekolah dasar.
Harapannya, pembiasaan menjadi imam dapat terus dilaksanakan oleh pihak sekolah setelah masa KKN berakhir. Dengan demikian, kesempatan bagi siswa kelas V dan VI untuk belajar dan berlatih menjadi imam tetap tersedia, sehingga proses pembentukan karakter dan penguatan pendidikan keagamaan dapat berlangsung secara berkelanjutan di SD Negeri 1 Somagede, Desa Somagede, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
Jelajahi berbagai jurnal harian dan dokumentasi kegiatan KKN 004 Somagede.